Senin, 23 November 2015

Penemuan Kerajaan Medang Kamulan

Penemuan Kerajaan Medang Kamulan - Bangunan kuno dari tatanan batu bata yang ditemukan di areal sawah di Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus ternyata masih cukup panjang ukurannya. Hal itu diketahui dari percobaan penggalian yang dilakukan Kades Banjarejo Ahmad Taufik belum lama ini.


 Penemuan Kerajaan Medang Kamulan
  


“Bangunan mirip pondasi ini panjang sekali kayaknya. Sampai saat ini, saya belum menemukan ujung bangunan di sisi selatan,” kata Taufik.
Ia menjelaskan, selama empat hari terakhir, dia meminta beberapa orang warga untuk menggali di beberapa titik. Yakni, di sebelah selatan sumur gali yang ada di areal sawah milik Suwaji. Jarak antar titik penggalian sekitar 40 meter.




Hingga titik terakhir, atau sekitar 200 meter dari sumur, pondasi batu bata itu masih terlihat. Kedalaman penggalian itu berkisar tiga sampai empat meter. Adapun tiap titik penggalian ukurannya sekitar satu meter persegi saja. Atau hampir sama dengan ukuran sumur gali yang ada disitu.


 Penemuan Kerajaan Medang Kamulan



”Jadi tanahnya tidak kita gali semuanya seperti yang kita lakukan pada penemuan sebelumnya. Soalnya, biayanya cukup besar kalau untuk menggali keseluruhan. Makanya, saya ambil sampel beberapa titik saja untuk mengetahui sampai dimana ujung bangunan kuno itu.




Warga  Dusun Nganggil, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan yang melakukan penggalian (12/10/2015) lalu, namun upaya untuk meneruskan penggalian bangunan kuno yang diduga pondasi kerajaan Prabu Dewata Cengkar tampaknya mulai menemui kendala. Yakni, soal biaya untuk menggali lebih jauh guna menelusuri alur bangunan secara keseluruhan.





Penemuan Kerajaan Medang Kamulan


Pada penggalian sepanjang 10 meter pertama di sawah milik Setiyono lebih cepat. Sebab, sawahnya berada paling rendah sehingga cukup menggali sekitar 50 cm sudah terlihat bangunan kuno mirip pondasi itu. Sementara penggalian sepanjang 30 meter di sawah milik Teguh Hariyadi yang ada diatasnya perlu mendongkel tanah sedalam 1 hingga 1,5 meter.
”Lahan sawah ketiga milik Suwaji yang ada sumur galinya, posisinya lebih tinggi lagi. Untuk menemukan alur bangunan kuno disitu setidaknya harus menggali sedalam 2 sampai 3 meter. Ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit dan prosesnya cukup berat. Soalnya, lahan sawah kondisinya kering kerontang sehingga tanahnya sangat keras,” katanya.
Dia berharap agar pemerintah, baik Pemkab Grobogan maupun Pemprov Jateng segera turun tangan. Minimal untuk melihat dulu secara langsung bangunan kuno yang ditemukan warga secara tidak sengaja itu. Setelah melihat lokasi, nanti baru dipikirkan upaya selanjutnya yang perlu dilakukan bersama-sama.
Sementara itu, Ketua Komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti meminta Pemkab Grobogan untuk segera mengambil langkah terkait ditemukannya pondasi tersebut. Sebab, bangunan itu sudah bisa dipastikan peninggalan zaman dulu lantaran bentuk batu bata dalam bangunan itu tidak lazim. Bahkan, bisa jadi bangunan itu terkait dengan keyakinan warga seputar adanya kerajaan Medang Kamulan disitu.




Penemuan Kerajaan Medang Kamulan,”Dari penelusuran yang sempat kita lakukan beberapa bulan lalu, lokasi yang diyakini jadi tempat berdirinya kerajaan Medang Kamulan tidak jauh dari tempat ditemukannya bangunan kuno itu. Kira-kira sekitar 500 meter di selatan bangunan kuno dan berada di tengah areal sawah,” terang Asti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar